Mentari Ahad (12/4/2026) menyapa Jalan Flamboyan IV dengan hangat yang merangkul. Di sana, aroma tanah basah dan wangi kembang di sekitar lokasi pembangunan Pesantren Mahasiswa Nahdlatul Ulama seolah menjadi saksi bisu dimulainya sebuah ikhtiar besar. Riuh rendah doa yang melangit menciptakan simfoni spiritual yang menggetarkan sanubari setiap tokoh yang hadir.
Sentuhan Pertama di Bumi Labuhan Dalam
Suara dentuman logam yang bertemu batu menjadi melodi pembuka. Ketika batu pertama diletakkan, ada getaran harapan yang menjalar—bukan sekadar menumpuk semen dan bata, melainkan sedang menyemai benih peradaban. H. Puji Raharjo, Ketua PWNU Lampung, berdiri dengan tatapan setajam elang namun meneduhkan, menegaskan bahwa bangunan ini adalah "rahim" bagi kader masa depan yang tangguh secara spiritual dan kompeten secara intelektual.
"Pesantren ini adalah ruang integratif, tempat di mana ilmu agama dan sains modern menari dalam harmoni, melahirkan generasi yang tegak di atas nilai Ahlussunnah wal Jama’ah," tuturnya dengan nada bicara yang mantap dan berwibawa.
Sinergi yang Menghidupkan
Suasana semakin khidmat saat Prof. H. Subandi, Rektor ITSNU sekaligus Ketua LP Ma’arif PWNU Lampung, memberikan orasinya. Beliau memandang jauh ke depan, membayangkan gedung ini tidak hanya sebagai deretan asrama yang bisu, melainkan jantung intelektual yang berdenyut kencang. Baginya, pesantren ini adalah pelengkap ekosistem pendidikan yang akan memoles karakter mahasiswa menjadi sekeras baja namun berhati lembut selembut sutra.
Kehadiran yang Menguatkan
Di tengah kerumunan, tampak jajaran PC LP Ma'arif NU Kota Bandar Lampung turut memberikan energi dukungan. Kehadiran Agus Faisal Ahsya, M.Pd. yang didampingi oleh Winarno menambah warna soliditas dalam barisan tersebut. Mereka hadir membawa semangat sinergi, memastikan bahwa setiap langkah pembangunan ini dikawal oleh tekad yang bulat.
Pesan Visual Peradaban
Pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik; ia adalah ikon baru peradaban di Lampung. Sebuah mercusuar yang akan memancarkan cahaya integritas dan daya saing. Dengan dimulainya peletakan batu ini, ITSNU Lampung dan PWNU Lampung sedang menuliskan babak baru: sebuah masa depan di mana mahasiswa tidak hanya cerdas menaklukkan teknologi, tetapi juga fasih dalam melangitkan doa dan membumikan nilai-nilai kebangsaan.
Tanah Labuhan Dalam kini telah menyimpan rahasia besar—sebuah pondasi yang kelak akan menopang mimpi-mimpi besar anak bangsa.


































































































































No comments:
Post a Comment